Kamis, 09 Januari 2020

Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Mengapa Islam menjadi bermacam-macam?

Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].

Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu.

Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ;

Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi].

Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang
dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?

Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan.

Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat.

Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)

Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya.

Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).

Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka.

Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.

Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:

Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja.
Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan (hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga dengan label-label kelompoknya.
Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij.

Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya :

“Siapakah Ahlus Sunnah itu?

Ia menjawab:

Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).

Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah.

Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:

Beriman kepada takdir Allah,
Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,
Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,
Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,
Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,
Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau
Beriman bahwa Dajjal akan muncul,
Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,
Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,
Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir (banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,
Tidak memberontak kepada penguasa muslim,
Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,
Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.
Jangan salah membatasi

Imam Al Barbahari berkata:

”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2).

Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya.

Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.

Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan:

’Ahlus Sunnah adalah NU’

atau

’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’.

Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata:

’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’.

Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata:

’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’.

Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata

’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’.

Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.

Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan.

Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah:

”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174).

Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya.

Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya

”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [An Najm: 30].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat.


Minggu, 08 April 2018

Makna kata takdir yang bersifat jabbari (ketentuan)

Ketentuan yang sudah digariskan bahkan sebelum sesuatu itu dilakukan) dapat diuraikan sebagai berikut. Allah Swt. berkuasa penuh terhadap segala sesuatu yang berada di alam semesta ini. Seperti disebutkan melalui beberapa firman Allah Swt. berikut, "Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan (rahim) yang kurang sempurna maupun yang bertambah. Juga segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.Yang mengetahui semua yang ghaib, dan yang tampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi. Sama saja bagi Allah, siapa di antara kalian yang merahasiakan ucapannya, atau siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, juga siapa yang bersembunyi di malam hari serta yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari," (QS Al-Ra’d [13]: 8- 10).
Allah Swt. juga berfirman, "Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; juga Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu," (QS Al-Hijr [15]: 21).
Allah Swt. juga berfirman, "Dan Allah telah meninggikan langit, lalu Dia meletakkan neraca (keadilan)," (QS Al-Rahmân [55]: 7).
Dengan kata lain, pengertian takdir adalah segala ketetapan yang telah dibuat oleh Allah Swt. di alam semesta ini, sesuai dengan kehendak dan ilmu-Nya semata. Dan, segala sesuatu yang merupakan hasil ciptaan-Nya di alam semesta ini pasti berjalan sesuai dengan takdir dan ketetapan-Nya ‘Azza wa Jalla.
Kekuasaan penuh yang dimiliki Allah Swt. terhadap alam semesta ini diyakini oleh hampir semua orang, baik yang beriman maupun yang ingkar kepada aturan-Nya. Bahkan, seorang yang berfaham sekular seperti Karl Marx sendiri mempercayai, bahwa ada sebuah Dzat (Allah Swt.) yang mempunyai kuasa penuh terhadap alam semesta yang dalam bahasa mereka (kaum sekular) disebut sebagai determinizm. Hampir semua dari mereka meyakini, bahwa Allah Swt. adalah penguasa tunggal yang berkuasa penuh tehadap apa saja yang telah diciptakan-Nya. Sebagian ulama Islam, seperti Ibnu Khaldun, berkeyakinan bahwa Allah Swt. berkuasa penuh terhadap kehidupan semua orang, termasuk juga yang bersinggungan dengan permasalahan yang berkaitan dengan sejarah manusia di belahan dunia bagian Barat.
Keyakinan Ahli Sunnah wal Jama'ah menetapkan, bahwa semua perilaku dan kehendak setiap orang pasti sesuai dengan kehendak dan ketetapan Allah Swt.. Misalnya, pada saat kita hendak membangun sebuah gedung, tentunya kita membutuhkan perencanaan terlebih dahulu yang harus disusun dengan baik dan teukur, agar bangunan yang kita kehendaki nantinya berdiri sesuai dengan keinginan kita. Inilah yang akan dilakukan oleh seorang ahli dan terlatih bila hendak membangun sebuah gedung; ia pasti ia merencanakan terlebih dahulu pembangunannya secara matang dan terukur.
Lalu mungkinkah menurut pendapat Anda jika Allah Swt. menciptakan makhluk yang bernama manusia tanpa direncanakan dengan baik dan detail? Tentunya hal itu sangat mustahil bagi Allah Swt.. Demikian pula halnya dengan bijibijian atau bibit pada tumbuh-tumbuhan, yang tidak mungkin akan terlepas dari takdir dan kehendak Allah Swt. dalam penciptaan maupun pertumbuhannya.
Dengan bahasa lain dapat disimpulkan, bahwa apa saja yang wujud (ada) di jagad semesta ini, sejak dari yang paling sederhana seperti bibit pada tumbuh-tumbuhan sampai dengan yang rumit seperti sperma yang menjadi bahan bagi terciptanya seorang anak manusia, semua itu tidak ada yang terlepas dari kehendak dan takdir Allah Swt.. Bahkan, jika ada sekelompok orang yang berusaha dengan bekerja sama sepanjang tahun untuk menciptakan sesuatu seperti pembungkus atau kulit bagi sebuah pohon (tanaman), tentu mereka tidak akan mampu sedikit pun melakukannya, meskipun mereka telah berusaha dengan sekuat tenaga mewujudkannya. Lalu, bagaimana jika mereka diminta untuk menciptakan kulit pada seluruh tumbuhan yang jumlahnya tidak pernah mungkin terhitung oleh akal sehat manusia?
Kini coba perhatikan tentang betapa singkatnya usia alam semesta yang luar biasa mengagumkan ini. Seorang yang berdiri di depan sebuah teleskop akan melihat secara jarak jauh antara satu bintang dengan bintang yang lain sejauh lima juta tahun cahaya.[1] Maksudnya, jika ada sebuah bintang yang terang kemudian ia padam, maka engkau tidak dapat melihat padamnya bintang itu kecuali setelah lima juta tahun dari waktu padamnya bintang itu.
Demikian pula andaikata Anda bisa menyaksikan seberkas sinar dari suatu bintang di langit, dan Anda ingin mendatangi bintang tersebut, tentunya Anda tidak dapat sampai ke tempat bintang itu, kecuali setelah lima juta tahun dari waktu yang tersedia. Oleh karena itu, jika seseorang memikirkan kejadian suatu bintang yang sedemikian jauh jaraknya dengan bumi, apakah alam semesta yang sebesar dan serapi itu susunannya tidak menimbulkan ketakjuban tersendiri bagi orang yang menggunakan akal pikirannya untuk menelaah?
Selain itu, perlu diketahui pula bahwa alam semesta yang sedemikian luasnya ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan manusia yang sengaja dijadikan oleh Allah Swt. sebagai khalifah di atas bumi-Nya. Karena hubungan manusia dengan alam semesta akan menimbulkan kepercayaan pada adanya takdir dan ilmu Allah Yang Mahaluas. Karena, hanya Dia Swtyang memiliki langit dan bumi dengan berbagai aturan serta timbangan yang sangat luar biasa dan begitu detail.
Adanya hubungan antara alam semesta ini dengan tubuh manusia sangatlah erat, sehingga seorang ilmuwan yang bernama Jean[2] pernah mengatakan, ‚Sesungguhnya Dzat yang telah menciptakan alam semesta ini dari susunan partikel, termasuk penciptaan manusia dan makhluk lainnya, semua itu telah diciptakan dengan luar biasa rapi dan sangat teratur, sehingga semua ciptaan-Nya menunjukkan betapa agung ilmu Allah Swt..‛
Apakah keagungan ilmu Sang Maha Pencipta yang sebesar itu tidak menimbulkan suatu keajaiban tersendiri bagi orang yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir?
Andaikata seseorang di antara kita merencanakan suatu pekerjaan yang paling sederhana sekalipun terkait dengan kepentingan pihak lain, maka tentu ia akan berkonsultasi dengan para ahli yang dipercayai memiliki kemampuan di bidangnya. Sebab, jika terjadi suatu kesalahan pada saat menentukan salah satu arah atau tujuannya, maka sudah tentu rencana semula akan mengarah kepada apa yang tidak ia kehendaki. Kalau seseorang yang hendak melakukan pekerjaan yang sederhana saja membutuhkan segenap perencanaan yang matang jika menginginkan berhasil mencapai tujuannya, yaitu dengan mengarahkan pikiran dan merencanakannya secara baik tentang bentuk maupun segala keperluan yang dibutuhkan, maka demikan pula halnya pada saat Allah Swt. menciptakan alam semesta berikut seluruh isinya ini juga membutuhkan kekuasaan, perhitungan yang sangat matang, perencanaan, dan ketelitian yang sangat-sangat detail. Mahabesar kekuasaan Allah Swt. atas kesemua ciptaan-Nya, dan Dia Maha Berkehendak.
Mari kita perhatikan satu buah apel yang Anda letakkan di ujung mulut Anda. Setelah itu, perhatikan hubungannya yang sangat harmonis antara potongan buah apel dengan kedua bibir serta fungsi gigi dan lidah Anda. Perhatikan pula betapa banyaknya varian rasa dari buah apel yang tengah berada di dalam mulut Anda itu, karena buah apel itu mengandung berbagai vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh Anda. Kemudian perhatikan pula tentang pohon apel dan kebutuhan terhadap manfaat bagi tubuh pengonsumsinya, juga berbagai kebaikan yang terdapat di dalam kandungan buah apel itu sendiri. Selain itu, perhatikan pula beratus-ratus ribu bahkan berjuta jenis tanaman yang tersedia di sekitar kita. Demikian pula dengan berbagai jenis dari pohon yang bernama apel tersedia dalam berbagai varian bentuk maupun rasanya. Jika kita perhatikan baik-baik seluruh keajaiban yang tersedia pada satu saja dari jenis buah-buahan, maka tentu kita akan merasa kagum terhadap keagungan ilmu Allah Yang Mahaluas ketika menciptakan, mensuplai, mengatur dan sekaligus menjaga eksistensi seluruh alam semesta ini. Yang demikian itu hanyalah sebagian kecil saja dari contoh yang tersedia atas hasil ciptaan Allah Swt. di alam semesta ini.
Selanjutnya mari pula kita perhatikan dengan saksama sesuatu yang lebih kecil dari beberapa contoh di atas, dan atau persoalan yang justru lebih besar lagi; misalnya masalah perbintangan. Jika kita perhatikan baik-baik tentang adanya beratus ribu bahkan jutaan jumlah bintang di malam hari, pasti kita akan mengerti bahwa di sana ada sebuah sistem (aturan) yang sangat rapi, berimbang, teliti dan adanya takdir tersendiri yang berkaitan dengan segala sesuatunya. Setelah itu, mari kita bandingkan dengan persoalan yang terlihat sederhana di seputar sperma yang dimiliki oleh seorang laki-laki dewasa (suami), dimana sperma itu bergerak menuju mulut rahim seorang wanita (istrinya). Tentunya sperma itu hanya dapat bergerak dengan izin dan ketetapan dari Allah Swt.. Dengan izin Allah Swt. pula sperma itu akan menjadi janin (calon bayi), dan akan menjadi seorang manusia yang sempurna sesuai aturan DNA dan RNA-nya masing-masing. Sehingga pada setiap bagian dari anggota tubuh dari sang calon bayi akan berada di posisinya masing-masing.
Permasalahan di seputar takdir ini juga dipahami secara baik oleh para pakar ilmu perbintangan dan para ahli ilmu fisika, bahwa jarak antara satu benda di langit dengan benda yang lain telah ditetapkan oleh takdir secara teratur dan rapi. Sehingga masing-masingnya akan berputar pada porosnya, sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan oleh Allah Swt.. Adapun ketetapan yang telah digariskan oleh Allah Swt. bagi alam semesta ini tidak lain merupakan bagian dari takdir- Nya.
Segala sesuatu yang telah kami terangkan di atas hingga kini tergolong dalam takdir Jabbari. Maksudnya, takdir ini telah ditetapkan oleh Allah Swt. sendiri, sehingga tidak seorang pun dapat mengubah atau menolaknya. Allah Swt. menetapkan alam semesta ini dengan ilmu dan kehendak-Nya sendiri, apa saja yang dikehendaki oleh Allah Swt. pasti akan terjadi. Dia boleh berbuat apa pun sesuai dengan kehendak-Nya, dan tidak seorang pun boleh bertanya, mengapa Dia berbuat demikian atau lainnya? Sebab, Dia Mahakuasa lagi Mahaperkasa. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah Swt. mempunyai hikmah tersendiri, meskipun hikmah itu tidak ada keharusannya. Sebab, Allah Swt. mempunyai sifat sebagaimana digambarkan melalui firman-Nya berikut ini, "Dia Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya," (QS Al-Burûj [85]: 16).
Bukankah bumi kita berputar pada porosnya, dan mengelilingi matahari menurut batas-batas edarnya masingmasing. Yang sedemikian itu tergolong ke dalam takdir Allah Swt., dimana tidak seorang pun dapat menghentikan atau mengubahnya sedetik pun. Demikian pula matahari dan bintang, masing-masing dari keduanya saling berputar pada garis edarannya masing-masing. Sehingga keduanya tidak pernah bertabrakan sesaat pun, karena sepenuhnya semua itu telah ditetapkan oleh takdir Allah Swt.. Inilah yang dimaksud dengan takdir jabbari. Seluruhnya hanya tunduk kepada kehendak Allah, dan tidak tunduk kepada kehendak yang lain (makhluk).

Senin, 18 Agustus 2014

Kisah Nabi Adam as dalam Al-Qur'an.

Nama: Adam
Usia: 930 tahun
Periode sejarah: 5872 - 4942 SM
Tempat turunnya di bumi: India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab
Jumlah keturunannya (anak): 40 (laki-laki dan perempuan)
Tempat wafat: India, ada yang berpendapat di Mekah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak: 25 kali


Penciptaan Adam

Setelah Allah SWT. menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni, mengisi, serta memelihara bumi tempat tinggalnya. Saat Allah mengabari para malaikat akan kehendak-Nya untuk menciptakan manusia, mereka khawatir makhluk tersebut nantinya akan membangkang terhadap ketentuan-Nya dan melakukan kerusakan di muka bumi. Berkatalah para malaikat kepada Allah:

"Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" (Q.S. Al-Baqarah [2]:30)

Allah kemudian berfirman untuk menghilangkan keraguan para malaikat-Nya:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah [2]:30)

Lalu diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna. Awalnya Nabi Adam a.s. ditempatkan di surga, tetapi terkena tipu daya iblis kemudian diturunkan ke bumi bersama istrinya karena mengingkari ketentuan Allah.

Adam diturunkan dibumi bukan karena mengingkari ketentuan, melainkan dari sejak akan diciptakan, Allah sudah menunjuk Adam sebagai khalifah di muka bumi. jadi meskipun tidak melanggar ketentuan (Allah) adam akan tetap diturunkan kebumi sebagai khalifah pertama.
Adam merupakan nabi dan juga manusia pertama yang bergelar khalifah Allah yang dimuliakan dan ditinggikan derajatnya. Ia diutus untuk memperingatkan anak cucunya agar menyembah Allah. Di antara sekian banyak anak cucunya, ada yang taat dan ada pula yang membangkang.

Kesombongan iblis (setan)
Saat semua makhluk penghuni surga bersujud menyaksikan keagungan Allah itu, hanya iblis (setan) yang membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah karena merasa dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam. Hal itu disebabkan karena setan merasa diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam hanyalah dari tanah dan lumpur. Kebanggaan akan asal-usul menjadikannya sombong dan merasa enggan untuk bersujud menghormati Adam seperti para makhluk surga yang lain.

Disebabkan oleh kesombongannya itulah, maka Allah menghukum setan dengan mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan para malaikat disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga kiamat kelak. Disamping itu, ia telah dijamin sebagai penghuni neraka yang abadi.

Setan dengan sombong menerima hukuman itu dan ia hanya memohon kepada-Nya untuk diberi kehidupan yang kekal hingga kiamat. Allah memperkenankan permohonannya itu. Tanpa mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, setan justru mengancam akan menyesatkan Adam sehingga ia terusir dari surga. Ia juga bersumpah akan membujuk anak cucunya dari segala arah untuk meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat bersamanya. Allah kemudian berfirman bahwa setan tidak akan sanggup menyesatkan hamba-Nya yang beriman dengan sepenuh hati.

Pengetahuan Adam
Allah hendak menghilangkan pandangan miring dari para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya yang menyatakan Adam sebagai penguasa bumi, maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang ada di alam semesta yang kemudian diperagakan di hadapan para malaikat. Para malaikat tidak sanggup menjawab firman Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka dan mengakui ketidaksanggupan mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan-Nya.

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para malaikat dan setelah diberitahu oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka bahwa hanya Dialah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.

Adam menghuni surga
Adam diberi tempat oleh Allah di surga dan baginya diciptakan Hawa untuk mendampingi, menjadi teman hidup, menghilangkan rasa kesepian, dan melengkapi fitrahnya untuk menghasilkan keturunan. Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam sebelah kiri sewaktu beliau masih tidur sehingga saat beliau terjaga, Hawa sudah berada di sampingnya. Allah berfirman kepada Adam:

"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Al-Baqarah [2]:35)

Tipu daya setan
Sesuai dengan ancaman yang diucapkan saat diusir oleh Allah dari surga akibat pembangkangannya, setan mulai merancang skenario untuk menyesatkan Adam dan Hawa yang hidup bahagia di surga yang tenteram dan damai.

Bujuk rayunya dimulai saat ia menyatakan kepada mereka bahwa ia adalah kawan mereka yang ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh iblis untuk membuat Adam dan Hawa terbujuk. Ia membisikkan kepada mereka bahwa larangan Allah kepada mereka untuk memakan buah dari pohon terlarang adalah karena mereka akan hidup kekal sebagai malaikat apabila memakannya. Bujukan itu terus menerus diberikan kepada Adam dan Hawa sehingga akhirnya mereka terbujuk dan memakan buah dari pohon terlarang tersebut. Jadilah mereka melanggar ketentuan Allah sehingga Dia menurunkan mereka ke bumi. Allah berfirman:

"Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (Q.S. Al-Baqarah [2]:36)

Mendengar firman Allah tersebut, sadarlah Adam dan Hawa bahwa mereka telah terbujuk oleh rayuan setan sehingga mendapat dosa besar karenanya. Setelah taubat mereka diterima, Allah berfirman:

"Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
Lokasi Adam dan Hawa turun ke bumi

Turunlah mereka berdua ke bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya.
Di dalam kitab ad-Durrul Mantsur, disebutkan "Maka kami katakan, 'Turunlah kalian ... ", dari Ibnu Abbas, yakni: Adam, Hawa, Iblis, dan ular. Kemudian mereka turun ke bumi di sebuah daerah yang diberi nama "Dujjana", yang terletak antara Mekah dan Thaif. Ada juga yang berpendapat Adam turun di Shafa, sementara Hawa di Marwah. Telah disebutkan dari Ibnu Abbas juga bahwa Adam turun di tanah India.

Diriwayatkan Ibnu Sa'ad dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas, dia mengatakan, Adam diturunkan di India, sementara Hawa di Jeddah. Kemudian Adam pergi mencari Hawa sehingga dia mendatangi Jam'an (yaitu Muzdalifah atau al-Masy'ar). Kemudian disusul (izdalafat) oleh Hawa. Oleh karena itu, tempat tersebut disebut Muzdalifah.

Diriwayatkan pula oleh Thabrani dan Nua'im di dalam kitab al-Hilyah, serta Ibnu Asakir dari Abu Hurairah, dia bercerita, Rasulullah saw bersabda: "Adam turun di India."
Sementara Ibnu Asakir menyebutkan ketika Adam turun ke bumi, dia turun di India.
Di dalam riwayat Thabrani dari Abdullah bin Umar disebutkan :

"Ketika Allah menurunkan Adam, Dia menurunkannya di tanah India. Kemudian dia mendatangi Mekah, untuk kemudian pergi menuju Syam (Syria) dan meninggal disana." (HR. Thabrani)

Dari riwayat-riwayat secara global disebutkan bahwa Adam turun ke bumi, dia turun di India (Semenanjung Syrindib, Ceylan) di atas gunung yang bernama Baudza. Di dalam kitab Rihlahnya, Ibnu Batuthah mengatakan: "Sejak sampai di semenanjung ini, tujuanku tidak lain, kecuali mengunjungi al-Qadam al-Karimah. Adam datang ketika mereka tengah berada di semenanjung Ceylan".
Syaikh Abu Abdullah bin Khafif mengatakan: "Dialah orang yang pertama kali membuka jalan untuk mengunjungi al-Qadam."

Lokasi Makam Adam
Sementara makam Adam as sendiri ada yang mengatakan terletak di gunung Abu Qubais. Ada juga yang mengatakan di gunung Baudza, tanah dimana dia pertama kali turun ke bumi. Dan ada juga yang berpendapat, setelah terjadi angin topan, Nuh as mengulangi pemakamannya di Baitul Maqdis.
Dan kami menarjih apa yang diriwayatkan Thabrani, Ibnu al-Atsir, dan al-Ya'qubi, bahwa Adam setelah Allah SWT memberikan ampunan kepadanya, dibawa oleh Malaikat Jibril ke Jabal Arafat. Disana Jibril mengajarinya manasik haji. Dia meninggal dan dimakamkan di tepi Jabal Abu Qubais.



Seperti telah disampaikan di atas bahwa nama Adam as dalam Al-Quran disebutkan 25 kali dalam 25 ayat, yaitu :

Surat Al-Baqarah [2] : ayat 31, 33, 34, 35, dan 37
Surat Al-Imran [3] : ayat 33 dan 39
Surat Al-Maidah [5] : ayat 27
Surat Al-A'raaf [7] : ayat 11, 19, 26, 27, 31, 35, dan 127
Surat Al-Israa' [28] : ayat 50
Surat Maryam [19] : ayat 58
Surat Thaaha [20] : ayat 115, 116, 117, 120, dan 121
Surat Yaasin [36] : ayat 60

Berikut ini dibeberapa beberapa ayat penting yang terkait dengan uraian tersebut di atas.
Pada Surat Al-Baqarah [2] : ayat 30-38, Firman Allah SWT :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah [2]: 31,32)

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?" Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah [2]: 33,34)

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Al-Baqarah [2]: 35-38)

Kemudian pada Surat Thaahaa [20] : ayat 115-123, Firman Allah SWT :

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya". (QS. Thaahaa [20]: 115-119)

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaahaa [20]: 120-123)



Referensi
Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
Ibnu Katsir, Qishashul Anbiyaa', hlm 24.
Ibnu Asakir, Mukhtashar Taarikh Damasyaqa, IV/224.
ats-Tsa'labi, Qishashul Anbiyaa' (al-Araa'is), hlm 36.
Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
alquran.bahagia.us, al-quran.bahagia.us, dunia-islam.com, Al-Quran web, id.wikipedia.org, PT. Gilland Ganesha, 2008.
Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

Baca juga Inspirasi Muslimah